Categories
News

SAYA INGIN KEMBALI BERBISNIS

NAMA pengusaha KPH Salahuddin Setiawan Djodi Nur Hadiningrat lebih dikenal sebagai Setiawan Djody disebut-sebut di pusaran megaproyek pembangunan kilang di Tuban, Jawa Timur. Ketua Perhimpunan Indonesia-Rusia ini sukses memboyong Rosneft, perusahaan minyak Rusia, membangun new grass root refinery senilai US$ 13-14 miliar atau Rp 177-190 triliun. ”Di masa Jokowi, saya ingin kembali berbisnis,” kata Djody melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp dari Guangzhou, Cina, kepada Agus Supriyanto dari Tempo, Rabu pekan lalu.

Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, ini mengaku bersemangat setelah sepuluh tahun lebih ”menganggur” di dunia bisnis. Anda disebut-sebut berada di balik terpilihnya Rosneft sebagai pemenang lelang Kilang Tuban yang digelar PT Pertamina Indonesia. Proses menuju kerja sama itu sudah dirintis beberapa tahun lalu. Saya sudah 15 tahun kenal Rosneft. Posisi saya sebagai Ketua Persahabatan Indonesia-Rusia. Saya hanya mengenalkan Rosneft ke Pertamina.

Setelah antardireksi bertemu, saya langsung pulang. Kalau Rusia masuk juga ke bisnis kilang di Indonesia, mereka bisa bersaing dengan Saudi Aramco dan hal itu bagus untuk Indonesia. Saya punya idealisme: beli minyak jangan lagi dari trader, tapi harus dari produsennya langsung. Keputusan Pertamina memilih Rosneft dinilai mengejutkan. Benarkah Saudi Aramco ditelikung di proses akhir? Tidak begitu. Rosneft ini menang tender, bukan diberi Pertamina. Aramco kelihatan kurang serius karena Rusia lebih menarik tawarannya.

Rosneft berani memberi lapangan minyak kepada Pertamina. Rusia punya sumur dan minyak, mau bangun kilang, serta setuju tidak ikut-ikutan di bisnis hilir. Toh, Saudi Aramco sudah mendapat proyek Kilang Cilacap. Mereka juga minta Balongan. Kasihan kalau kilang kita dimonopoli Aramco. Sebagai penghubung Rusia-Indonesia, Anda mendapatkan apa dalam transaksi ini? Saya terbuka saja. Kalau nanti kilang dibangun, saya ingin partisipasi di sektor hilir. Saya bisa ikut andil di bisnis petrokimia.

Saya punya konsorsium bersama mitra dari Jepang dan Cina. Kalau internal rate of return bagus, saya masuk. Sebagai orang yang mengenalkan Rosneft, boleh dong ikut andil. Itu yang saya minta ke Rosneft dan Pertamina. Di zaman Jokowi, saya mau kembali berbisnis. Selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, saya ”menganggur”. Kebetulan saat itu saya juga sakit. Untuk urusan ini, benarkah Anda berkongsi dengan Mohamad Rizky Pratama, putra Megawati Soekarnoputri? Yang berbisnis dengan saya bukan Rizky Pratama, melainkan sepupunya, Hendra Rahtomo.

Kami bisa ikut di bisnis downstream asalkan tidak mengganggu modal mitra. Saya terbuka saja, nanti kami ikut masuk berbisnis. Jangan sembunyisembunyi. Kongsi ini mempengaruhi Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno untuk memilih Rosneft karena ingin memperbaiki hubungan dengan Teuku Umar—kediaman Megawati? Saya tidak mencampuri urusan Menteri BUMN. Mengenai hubungannya dengan Teuku Umar, saya tidak tahu. Benarkah Anda menemui Presiden Joko Widodo untuk berbicara soal kerja sama dengan Rusia ini? Saya bertemu dengan Jokowi saat Lebaran tahun lalu di Solo.

Saya juga bertemu di bandara. Jadi Anda ikut juga ke Sochi, Rusia? Ya, tapi di sana tidak ketemu beliau. Saya bertemu dengan teman-teman Kadin. Saya datang sebagai tamu undangan di Forum ASEAN-Russia Summit. Mereka mengundang saya sebagai pengusaha. Kredibilitas Rosneft diragukan karena sejumlah proyek di luar Rusia terkatung-katung. Rusia juga terkena sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa…. Orang mau ragu boleh saja.

Tapi Pertamina di bawah Dwi Soetjipto harus membuat langkah lebih jelas. Saya berharap proyek ini jadi. Rosneft tidak dilarang berdagang dengan Indonesia. Sanksi Amerika Serikat tidak melarang joint venture. Kalau semua jadi, ini revolusi sektor minyak di era Jokowi. Jokowi tidak boleh ragu. Saya mendukung Jokowi membenahi semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *