Categories
Parenting

Special Time For Dhia

Artis cantik presenter sepak bola liga Italia, Spanyol, dan Inggris, ini, bercerita tentang kehamilannya. “Saat hamil anak pertama, saya kebo banget. Masih sanggup kerja 8 jam sehari. Syuting ini itu dilakoni. Selama kehamilan juga tidak pernah merasakan keluhan sama sekali,” ungkap pemilik nama lengkap Indah Kirana (32) ini.

Baca juga : Kerja di Jerman

Nah, saat hamil anak kedua, Indah mengaku sudah siap-siap akan repot. “Sebab, kata orang, hamil anak kedua biasanya lebih repot. Eh, setelah menjalaninya, sama aja, tuh, seperti hamil Kirsyadhia Nabil P. (5) alias Dhia. Saya tidak ngidam sama sekali, tidak mualmual, tidak muntah, dan bawaannya seperti sedang tidak hamil,” ujarnya seraya tertawa geli. Mungkin karena itu, bagi Indah, hamil merupakan sesuatu yang menyenangkan,“Bagaimana enggak enak? Ibu hamil selalu diperhatikan oleh suami. Oleh orang lain, mama hamil juga selalu diistimewakan. Coba aja di mal, petugas parkir dan satpam langsung sigap membantu memarkirkan mobil jika tahu bumil yang nyetir.

Naik eskalator juga, oleh orang lain selalu didahulukan dan dibantu, he he he.…” cerita istri dari Prasyaharia Prastowo (37) ini. Karena mendapat perhatian itu membahagiakan, Indah pun melakukan hal yang sama kepada buah hatinya. “Sama anak, orangtua wajib perhatian dan bagi saya boleh, kok, anak dimanjakan. Dhia juga kerap kami manjakan, tapi ada batasnya. Contoh, Dhia tidur masih dengan orangtua, tapi kalau urusan makan, dia sudah harus bisa sendiri, begitu juga pakai baju, walau sedikit-sedikit masih dibantu.

Terkait dengan perhatian inilah, Indah sadar Dhia yang akan menjadi kakak harus diberikan pemahaman bahwa akan ada adiknya yang kelak juga membutuhkan perhatian orangtuanya. “Dhia harus tahu bahwa adiknya nanti akan lebih banyak nempel dengan saya karena masih bayi. Dengan penjelasan ini, saya harap Dhia tidak merasa tersisihkan, apalagi sampai merasa tak disayang.” Indah dan suami pun sepakat, paling tidak seminggu sekali akan ada waktu khusus untuk Dhia bersama mama dan papanya tanpa ada sang adik. “Hal kecil dan sederhana ini penting, supaya Dhia sebagai kakak tetap happy juga bisa menjadi kakak yang baik.” tutup Indah.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Categories
Parenting

Mencegah Mimisan

Untuk mencegah mimisan, Mama dapat melakukan hal-hal berikut ini: • Jika Mama sedang flu atau alergi, usahakan jangan membuang ingus terlalu kencang atau sering-sering mengorek hidung. Lebih baik minum obat dekongestan untuk meringankan gejala flu, tentu harus dikonsultasikan dulu dengan dokter obgin Mama, ya. • Udara yang dingin dan kering juga membuat membran hidung cenderung teriritasi.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

Karena itu, sesuaikan suhu pendingin ruangan yang Mama pakai agar jangan terlalu dingin. • Minum air putih lebih dari delapan gelas sehari akan membantu melembapkan membran hidung. • Mengoleskan pelembap di sekitar cuping hidung pun bisa Mama lakukan untuk menambah kelembapan di arena ini. • Bila Mama punya alergi, usahakan menghindari faktor pencetus alergi supaya membran hidung tidak mudah membengkak. •

Saat sedang flu, mandi air hangat sebelum tidur akan membantu melegakan hidung sehingga Mama tidak mudah terbangun karena hidung mampet. • Teteskan minyak kayu putih ke dalam sebaskom air mendidih dan tempatkan di dalam kamar tidur. Uapnya akan membantu melegakan pernapasan Mama. • Menghirup uap larutan NaCl juga bisa membantu mengencerkan ingus di hidung.

Metode Sunat

Ada beberapa teknik atau me tode sunat. Pertama, sirkumsisi, yaitu de ngan menggunting kulit kulup yang mengelilingi ujung penis, selanjutnya di lakukan penjahitan dengan benang yang dapat diserap. Kedua, metode guillotine, yaitu de ngan menjepit kulit kulup menggunakan klem. Setelah ditarik dan dijepit dengan klem, kulit kulup lalu dipotong. Tentunya setelah dipastikan posisi glans penis aman.

Dari kedua metode tersebut, yang paling sering dilakukan adalah sirkumsisi, karena le bih aman. Sedangkan metode guillotine sangat berisiko se hingga tidak dianjurkan di lakukan oleh ahli bedah yang tak ber pengalaman. Saat ini ada juga beberapa metode baru, seperti smart klamp dan laser. Ada baiknya sebelum sunat, bicarakan ter lebih dahulu dengan dokter me ngenai metode yang akan digunakan, dari proses ker janya hingga kelebihan dan kekurangan metode tersebut. Sunat juga menurunkan risiko penyakit menular seksual dan kanker penis.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Categories
Parenting

Asi Turunkan Risiko Terpapar Arsenik

Hasil penelitian yang dimuat di jurnal Environmental Health Perspectives memperlihatkan, bayi yang mendapatkan ASI memiliki kadar arsenik lebih rendah dalam air seninya. Menurut para ahli dari Dartmouth College, Hanover, New Hampshire, pilihan Mama untuk menyusui bayinya dapat menurunkan paparan arsenik.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Zat ini secara alami bisa ditemukan di air, bebatuan, tanah, dan udara, begitu juga tanaman dan binatang. Sumber arsenik paling umum bagi manusia adalah makanan, seperti beras, produk olahan susu, dan air. Sementara paparan arsenik pada level tinggi dapat berhubungan dengan penyakit kanker, gangguan saluran pencernaan, dan penyakit lainnya. Paparan arsenik level tinggi terlalu dini bisa berpengaruh pada berat badan serta fungsi kognitif bayi.

Bayi Di Car Seat Harus Tetap Diawasi

Begitu juga dengan baby swing dan bouncer. “Banyak orangtua yang tidak menyadari bahaya dari meninggalkan bayi di ketiga alat ini tanpa pengawasan, baik dalam kondisi terjaga maupun tertidur,” kata Dr. Erich Batra, dari Penn State Medical Center, Hershey, Pennsylvania. Menurut peneliti studi yang dimuat di Journal of Pediatrics ini, ketiga alat tersebut bisa meningkatkan risiko bayi kehabisan napas dan meninggal. “Sebaiknya jangan meninggalkan bayi di car seat tanpa menggunakan tali pengaman atau hanya sebagian yang dikaitkan. Hindari juga meletakkan car seat pada permukaan yang empuk atau tidak rata,” kata Batra. Selain itu, para orangtua juga perlu mengetahui bahwa tali pengaman yang ada di bouncer, swing, maupun stroller bukan jaminan bagi bayi untuk terhindar dari posisi yang membahayakan. Jadi, selalu awasi dan pantau kondisi bayi.

Jatuh Dari Ranjang

“Usia 4 bulan, si kecil sudah bisa tidur tengkurap. Bertambah bulan makin pintar deh bergulingnya. Pernah saya dan suami sampai terbangun karena mendengar tangisnya. Eh, tak tahunya Tsabitha jatuh dari tempat tidur. Setelah kejadian itu, baru deh dibuatkan pengaman di pinggir ranjang agar kejadian serupa tidak terulang.”