Categories
Uncategorized

TAWARAN ROSNEFT PALING BAIK

KERJA SAMA antara PT Pertamina (Persero) dan Rosneft perusahaan minyak asal Rusia—dalam pembangunan kilang di Tuban, Jawa Timur, meletikkan aroma persaingan Kementerian Badan Usaha Milik Negara dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Meski begitu, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menegaskan, proses terpilihnya Rosneft telah sesuai dengan prosedur perseroan.

”Kami juga sudah melapor ke pemegang saham,” katanya kepada Agus Supriyanto, Ayu Prima Sandi, dan fotografer Aditia Noviansyah dari Tempo di kantor Pertamina, Jakarta Pusat, Selasa pekan lalu. Selama proses seleksi berlangsung, Dwi menyangkal ada perantara di luar Pertamina dan Rosneft yang terlibat. Ditemani Direktur Pengolahan Rachmad Hardadi dan juru bicara Pertamina, Wianda Pusponegoro, ia menceritakan berbagai aspek, termasuk pertimbangan geopolitik dalam memilih Rosneft.

Pertamina tergesa-gesa meneken kerja sama dengan Rosneft di Rusia. Apakah ada perintah khusus? Ada 400 perusahaan yang kami saring menjadi 36 berdasarkan kemampuan operasional, kapasitas produksi, produksi minyak mentah, kinerja keuangan, hingga kemauan berinvestasi. Pada tahap akhir ada sembilan perusahaan, di antaranya Saudi Aramco, Rosneft, Sinopec Cina, Kuwait Petroleum Internasional, T Oil, dan PTT Thailand. Kami gelar forum klarifikasi dengan mengundang CEO calon pemenang.

Tujuannya adalah menggali seberapa besar investor mau menaruh dana di Indonesia. Ada pesan dari pemerintah, sering komitmen investor ternyata tidak berlanjut dan tidak terlaksana. Jadi, intinya, mitra yang kami pilih harus serius. Kenapa Rosneft yang terpilih? Proses evaluasi berlangsung pada April-Mei. Rosneft memang pemain baru di Indonesia. Tapi agresivitasnya lebih baik.

Rosneft tidak hanya menawarkan kerja sama kilang, tapi menawarkan kerja sama kepada Pertamina untuk mengembangkan upstream (hulu) atau share produksi di Rusia. Tawaran ini tidak muncul di proses awal, tapi saat forum CEO itu. Rachmad Hardadi: Di tahap akhir, tinggal tiga perusahaan. Saudi Aramco tidak hadir dalam forum CEO yang kami gelar. Mereka baru merespons dua-tiga minggu setelah kami menggelar forum klarifikasi CEO. Itu yang kami sayangkan, karena kesempatan emas tidak dimanfaatkan Saudi Aramco. Ada penandatanganan pada 26 Mei di Jakarta.

Tapi ada penekenan kerja sama juga dengan Rosneft di Sochi, Rusia. Apa penjelasan Anda? Tidak ada penandatanganan di Rusia. Di Sochi, kami hanya melanjutkan negosiasi soal investasi di sektor hulu. Pertamina mendapatkan dua blok yang ditawarkan, masing-masing 20 dan 15 persen. Hal ini masih harus dinegosiasikan agar mereka tidak sekadar mengiming-iming. Kesepakatan—yang baru tercapai di saat-saat akhir—itu harus dilaporkan kepada presiden. Jadi kedua presiden sama-sama mengetahui komitmen tersebut. Seolah-olah ini menjadi G to G, meski tidak ada formalitasnya.

Konklusi dari pertemuan: masalah upstream selesai. Lalu penandatanganan pada Kamis dua pekan lalu. Setiawan Djody ikut membantu meyakinkan Pertamina agar memilih Rosneft. Sejauh mana campur tangan Djody? Komunikasi kami langsung dengan CEO Rosneft. Sejak awal, saya bilang ke CEO Rosneft Igor Sechin, ”Pak Igor, ini langsung antara Pertamina dan Rosneft.” Hal ini berkali-kali kami garis bawahi karena memang ada potensi orang menumpang di aliran air yang sedang mengalir.

Atau mungkin Rosneft yang butuh penghubung di sini? Dalam project expose, kami minta personal in charge yang bisa dihubungi. Kami berhubungan langsung, tidak meminta jasa siapa pun. Kerja sama ini berbentuk joint venture. Kedua perusahaan berkepentingan agar proyek untung. Terlalu besar kalau ada yang mau numpang-numpang. Kendaraannya besar sekali, pertanggungjawabannya susah.

Website : kota-bunga.net

Categories
News

SAYA INGIN KEMBALI BERBISNIS

NAMA pengusaha KPH Salahuddin Setiawan Djodi Nur Hadiningrat lebih dikenal sebagai Setiawan Djody disebut-sebut di pusaran megaproyek pembangunan kilang di Tuban, Jawa Timur. Ketua Perhimpunan Indonesia-Rusia ini sukses memboyong Rosneft, perusahaan minyak Rusia, membangun new grass root refinery senilai US$ 13-14 miliar atau Rp 177-190 triliun. ”Di masa Jokowi, saya ingin kembali berbisnis,” kata Djody melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp dari Guangzhou, Cina, kepada Agus Supriyanto dari Tempo, Rabu pekan lalu.

Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, ini mengaku bersemangat setelah sepuluh tahun lebih ”menganggur” di dunia bisnis. Anda disebut-sebut berada di balik terpilihnya Rosneft sebagai pemenang lelang Kilang Tuban yang digelar PT Pertamina Indonesia. Proses menuju kerja sama itu sudah dirintis beberapa tahun lalu. Saya sudah 15 tahun kenal Rosneft. Posisi saya sebagai Ketua Persahabatan Indonesia-Rusia. Saya hanya mengenalkan Rosneft ke Pertamina.

Setelah antardireksi bertemu, saya langsung pulang. Kalau Rusia masuk juga ke bisnis kilang di Indonesia, mereka bisa bersaing dengan Saudi Aramco dan hal itu bagus untuk Indonesia. Saya punya idealisme: beli minyak jangan lagi dari trader, tapi harus dari produsennya langsung. Keputusan Pertamina memilih Rosneft dinilai mengejutkan. Benarkah Saudi Aramco ditelikung di proses akhir? Tidak begitu. Rosneft ini menang tender, bukan diberi Pertamina. Aramco kelihatan kurang serius karena Rusia lebih menarik tawarannya.

Rosneft berani memberi lapangan minyak kepada Pertamina. Rusia punya sumur dan minyak, mau bangun kilang, serta setuju tidak ikut-ikutan di bisnis hilir. Toh, Saudi Aramco sudah mendapat proyek Kilang Cilacap. Mereka juga minta Balongan. Kasihan kalau kilang kita dimonopoli Aramco. Sebagai penghubung Rusia-Indonesia, Anda mendapatkan apa dalam transaksi ini? Saya terbuka saja. Kalau nanti kilang dibangun, saya ingin partisipasi di sektor hilir. Saya bisa ikut andil di bisnis petrokimia.

Saya punya konsorsium bersama mitra dari Jepang dan Cina. Kalau internal rate of return bagus, saya masuk. Sebagai orang yang mengenalkan Rosneft, boleh dong ikut andil. Itu yang saya minta ke Rosneft dan Pertamina. Di zaman Jokowi, saya mau kembali berbisnis. Selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, saya ”menganggur”. Kebetulan saat itu saya juga sakit. Untuk urusan ini, benarkah Anda berkongsi dengan Mohamad Rizky Pratama, putra Megawati Soekarnoputri? Yang berbisnis dengan saya bukan Rizky Pratama, melainkan sepupunya, Hendra Rahtomo.

Kami bisa ikut di bisnis downstream asalkan tidak mengganggu modal mitra. Saya terbuka saja, nanti kami ikut masuk berbisnis. Jangan sembunyisembunyi. Kongsi ini mempengaruhi Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno untuk memilih Rosneft karena ingin memperbaiki hubungan dengan Teuku Umar—kediaman Megawati? Saya tidak mencampuri urusan Menteri BUMN. Mengenai hubungannya dengan Teuku Umar, saya tidak tahu. Benarkah Anda menemui Presiden Joko Widodo untuk berbicara soal kerja sama dengan Rusia ini? Saya bertemu dengan Jokowi saat Lebaran tahun lalu di Solo.

Saya juga bertemu di bandara. Jadi Anda ikut juga ke Sochi, Rusia? Ya, tapi di sana tidak ketemu beliau. Saya bertemu dengan teman-teman Kadin. Saya datang sebagai tamu undangan di Forum ASEAN-Russia Summit. Mereka mengundang saya sebagai pengusaha. Kredibilitas Rosneft diragukan karena sejumlah proyek di luar Rusia terkatung-katung. Rusia juga terkena sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa…. Orang mau ragu boleh saja.

Tapi Pertamina di bawah Dwi Soetjipto harus membuat langkah lebih jelas. Saya berharap proyek ini jadi. Rosneft tidak dilarang berdagang dengan Indonesia. Sanksi Amerika Serikat tidak melarang joint venture. Kalau semua jadi, ini revolusi sektor minyak di era Jokowi. Jokowi tidak boleh ragu. Saya mendukung Jokowi membenahi semua.